Tampilkan postingan dengan label Jokowi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jokowi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 30 Mei 2019

Ide Soekarno, Diresmikan Soeharto, Kini Masjid Istiqlal Direnovasi oleh Jokowi

World News - Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melalui Direktorat Jenderal Cipta Karya akan melakukan Renovasi terhadap salah satu masjid terbesar di Asia Tenggara, Masjid Istiqlal. Hal ini ditandai dengan penandatanganan kontrak konstruksi senilai Rp465,3 miliar.
Dalam kesempatan tersebut, penandatanganan kontrak disaksikan langsung oleh Menteri PUPR Basuki Hadimuljono dan Menteri Agama Lukman Hakim di Auditorium Kementerian PUPR, Jakarta, Kamis (16/5/2019).
Dalam sambutannya, Lukman mengatakan, Masjid Istiqlal merupakan bangunan monumental yang dibangun sejak 1961 pada era pemerintahan Soekarno. Pembangunan yang memakan waktu hingga 17 tahun ini akhirnya selesai pada tahun 1978 atau 41 tahun lalu.
"Artinya, sudah 58 tahun berlalu Masjid Istiqlal pertama kali dilakukan pemancangan tiang pembangunan pertama oleh Bung Karno," ucapnya.
Pelaksanaan Renovasi Masjid Istiqlal akan dilaksanakan selama 300 hari kalender melalui Kontrak Tahun Jamak (2019-2020). Kontraktor yang akan melaksanakan kegiatan ini adalah PT Waskita Karya (Persero) dengan manajemen konstruksi PT Virama Karya.
Adapun lingkup kegiatan meliputi penataan ulang kawasan pada plaza dan gerbang, area dalam masjid, mihrab, koridor, ruang wudhu, toilet, perbaikan sistem mechanical electrical dan plumbing bangunan masjid, serta Renovasi sistem signage. Pada saat bersamaan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan juga sedang mengerjakan perbaikan limbah di kawasan Masjid Istiqlal.
Desain Renovasi arsitektur Masjid Istiqlal akan menerapkan prinsip minimalis dengan mempertimbangkan keberadaannya di kawasan beriklim tropis. Dalam pelaksanaan Renovasi Masjid Istiqlal yang mampu menampung 200 ribu jamaah ini akan ada tiga zona nantinya menjadi fokus penataan dan Renovasi masjid yaitu zona utama sebagai area kegiatan masjid dan kegiatan sosial, zona pendukung sebagai penunjang pedestrian berupa taman dan plaza publik dan terakhir zona publik.
Dikunjungi PM India, Ide Renovasi Muncul dari Mulut Jokowi
Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono menceritakan, ide akan dilakukannya Renovasi Masjid Istiqlal diinisiasi oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) sejak Ramadan tahun lalu. Saat itu, Jokowisedang dikunjungi oleh Perdana Menteri India Narendra Modi. Ia pun mengajak Modi berkeliling Masjid Istiqlal.
"Beliau (Jokowi) surprise. Ternyata kondisinya sangat sangat sangat perlu direnovasi," ucapnya.
Sesaat setelah berkeliling Masjid Istiqlal dengan Modi, Jokowi pun mengamanatkan Basuki agar bisa segera melaksanakan Renovasi melalui perencanaan, pelelangan, dan pelaksanaan. "Untuk mewujudkan Masjid Istiqlal sebagai Masjid Negara yang indah dan menjadi kebanggan bangsa Indonesia," ujarnya.
Bahkan, Jokowi saat itu juga memiliki permintaan khusus kepada Kementerian PUPR, ia ingin agar Masjid Istiqlal bisa secantik Gelora Bung Karno (GBK). "Tolong direhabilitasi, direnovasi menjadi lebih baik seperti kita merenovasi GBK," katanya menirukan permintaan Presiden.
Ditangan Cucu KH Ahmad Dahlan Masjid Istiqlal pun Dirancang
Dalam Renovasi ini, Kementerian PUPR akan melibatkan seorang arsitek bernama Munichy B Edrees. Belakangan diketahui, ia merupakan cucu KH Ahmad Dahlan. "Ketua arsiteknya Pak Munichy, dia cucu KH Ahmad Dahlan," ucap Direktur Jenderal Cipta Karya Kementerian PUPR Danis Hidayat Sumadilaga.
Danis menegaskan, Renovasi ini tidak mengubah arsitektur bangunan aslinya. Bahkan, interior khas dari Masjid Istiqlalhasil rancangan seorang legenda arsitek asli Indonesia bernama Friedrich Silaban pun tidak akan berubah. Lebih lanjut ia menerangkan, ruang lingkup Renovasi terbagi dua. Ada yang bagian luar dengan tiga plaza dan bagian dalam.
"Nah ini tentu saja kita akan Renovasi agar fungsinya semua menjadi lebih baik. Tidak ada yang berubah. Bahkan fungsi landmark-nya misalnya taman, air mancur dan sebagainya justru kita tingkatkan," jelasnya.
Untuk bagian plaza, kata Danis, akan dilakukan penambahan lahan parkir agar semakin luas. Saat ini masih dilakukan tahap evaluasi. "Mungkin nanti sekitar dua lantai ke bawah, itu yang akan kita lengkapi (parkir)," ujarnya.
Renovasi Tak Menghalangi Jamaah yang Beribadah
Menteri Agama Lukman Hakim mengatakan, meski direnovasi, Masjid Istiqlal akan tetap beroperasi seperti biasa. Artinya, Renovasi tidak akan menganggu para jamaah yang ingin menjalankan kegiatan ibadah.
"Jadi, prinsipnya masjid sebagai tempat sholat itu tetap berlangsung, tidak ditutup sama sekali. Dengan proses Renovasi, tentu ada bagian-bagian tertentu yang mengalami tidak digunakan secara maksimal," ucapnya.
Pada kesempatan yang sama, Basuki juga memastikan, nantinya pengerjaan Renovasi akan dilakukan secara bertahap. Sehingga, fungsi masjid tetap bisa terjaga dengan baik dan tidak menganggu kegiatan ibadah para jamaah.
"Sebagian masih bisa digunakan berfungsi sebagai masjid, tapi tidak full. Di Mekkah juga kalau ada Renovasi besar-besaran tetap jalan tapi dibatasi kuotanya (jamaah), begitu selesai ditambah," jelasnya.
Basuki juga meminta maaf atas kenyamanan jamaah yang terganggu karena adanya Renovasi di Masjid Istiqlal. Namun, ia memastikan Renovasi dilakukan demi kenyamanan bersama ke depannya. "Karpet diganti, marmer semua dibersihkan, pilar-pilar juga bersihkan semua disentuh. Jadi, mohon maaf for the inconvenience," ucapnya.[]


Sumber : Akurat.co

Senin, 15 April 2019

Hasil Pilpres 2019 Diprediksi Tak Akan Jauh dari Survei yang Ada

World News - Hasil Pilpres 2019 diprediksi tidak akan jauh berbeda dari hasil survei yang telah dilakukan oleh sejumlah lembaga.
Pengamat Politik dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Adi Prayitno, memprediksi bahwa Pasangan Capres-Cawapres Nomor Urut 01 Joko Widodo (Jokowi)-Ma'ruf Amin akan unggul atas penantangnya yakni pasangan Nomor Urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Hal itu sebagaimana dari hasil jajak pendapat sejumlah lembaga survei.
"Kalau melihat kecenderungan tren survei, tetap Jokowi yang unggul. Di survei itu kan nyaris tidak ada pergerakan signifikan melampaui elektabilitas Jokowi, terutama survei-survei yang dikeluarkan oleh lembaga yang secara reguler melakukan survei. Bukan lembaga survei yang hanya muncul 5 tahun sekali," ungkapnya kepada wartawan, Jakarta, Senin (15/4/2019).

Menurut Adi, jika melihat tren survei yang ada, kecenderungannya Jokowi tetap unggul di Pilpres 2019 nanti. "Unggulnya bisa dua digit atau satu digit. Kalau toh didiskon jadi satu digit, Jokowi kan tetap unggul. Itu artinya selama kampanye, debat kandidat, itu memang tidak terlampau mengubah peta politik," ujarnya.

Adi mengatakan, kalaupun ada tren kenaikan terhadap elektabilitas Prabowo-Sandi, mungkin itu berasal dari swing voters atau pemilih yang masih ragu, sebab basis pemilih Jokowi juga trennya naik. Ini juga bisa diterjemahkan bahwa swing voters mengalami penurunan hingga terkikis menjadi 7 persen.
"Artinya tidak ada migrasi pemilih dari 01 ke 02. Kecenderungannya hanya saling memperebutkan swing voter itu. Jokowi tidak memiliki tren turun, prabowo juga demikian. Artinya strong voter keduanya tidak ada yang pindah," katanya.

Merujuk data itu, Adi berpendapat, hasil Pilpres 17 April 2019 mendatang tidak akan jauh berbeda dari kebanyakan hasil survei yang ada. "Kalaupun ada kecenderungan berubah, berubahnya tidak akan terlalu banyak. Misalnya diprediksi menang 10-15 persen, kalaupun toh error, (margin error) survei itu kan 4 persen. Paling jatuhnya menang 10-11 persen. Itu margin error yang masih bisa ditoleransi," ungkapnya.

Adi mengungkapkan, jika tidak ada hambatan baik itu alami maupun buatan, maka kecenderungan perubahan hasil Pilpres sangat kecil.
"Kalau tak ada tsunami, kiamat, atau tidak ada badai besar, kecenderungan berubahnya kecil. Kalaupun ada itu karena pengaruh agama atau identitas, tapi tidak akan terlampau signifikan. Kalau masih normal-normal seperti saat ini, hasil-hasil survei itu reliable. Kalau kalau tidak 100 persen ya masih dalam batas margin error," ungkapnya.
Seperti diketahui, beberapa hari menjelang hari tenang Pemilu Serentak 2019, sejumlah lembaga survei merilis hasil survei mereka. Charta Politika menempatkan elektabilitas pasangan Jokowi-Ma'ruf di angka 55,7 persen, sementara tingkat keterpilihan pasangan Prabowo-Sandiaga sebesar 38,8 persen.
Hasil survei teranyar dari Saiful Mujani Research Center (SMRC) yang dirilis pada Jumat (12/4/2019) juga hampir senada, yakni Jokowi-Ma'ruf Amin unggul dengan 56,8 persen dan Prabowo-Sandi sebesar 37 persen.
Jokowi-Ma'ruf juga unggul berdasarkan survei Indo Barometer dengan angka 59,9 persen, sedangkan Prabowo-Sandii sebesar 40,1 persen. Lembaga Survei Median juga mengunggulkan petahana meski selisihnya tipis, yakni Jokowi-Ma'ruf 47,2 persen dan Prabowo-Sandiaga 39,5 persen.[]

Sumber : Akurat.co